Jumat, 23 Maret 2018

Piknik Naik Kereta ke Kotabumi

Patung kereta pengantin di Taman Sahabat, Kotabumi.
Berkereta adalah salah satu dari banyak hal yang paling aku sukai jika bepergian. Bahkan selama di Jawa, aku sering melakukan perjalanan dengan berkereta. Sedangkan di Lampung, aku baru sekali naik kereta beberapa tahun yang lalu, dari stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung menuju stasiun Kertapati, Palembang.

Sebenarnya, naik kereta masih menjadi hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat Lampung, mungkin hanya mereka yang di Bandar Lampung atau di beberapa daerah saja yang menggunakan transportasi massal ini. Dari 15 kabupaten dan kota, hanya 1 kota dan 4 kabupaten saja yang terhubung, seperti kota Bandar Lampung, Pesawaran, Lampung Tengah, Lampung Utara dan Way Kanan lalu berujung di Palembang. Sedangkan di kampungku, Liwa, di sana  tak ada kereta, adanya cuma kerita (dalam bahasa Lampung artinya sepeda). 😂

Ifa, Ola dan Winda: wajah-wajah yang baru ngerasain naik kereta 😁

Berawal dari niatku untuk mengajak salah satu member Rumah Inggris, Winda, yang ketahuan belum pernah sama sekali naik kereta. Sekalian aku juga mau coba berkereta dari Bandar Lampung ke Kotabumi, Lampung Utara. Di luar dugaan, ternyata ada banyak teman-teman Rumah Inggris yang juga pingin ikutan ke Kotabumi naik kereta. Mantap ini!

Tiket kami.

Pada hari Minggunya, pagi-pagi sekali kami sudah berada di stasiun Labuan Ratu untuk membeli tiket karena tiket hanya bisa dibeli di hari keberangkatan dan kereta berangkat pada jam 06.30 WIB. Dengan Rp10.000,- per tiketnya, kami berenam -aku, Okta, Loren, Ola, Ifa dan Winda- sudah bisa ke Kotabumi dengan menaiki KRD Seminung. Sebenarnya ada 2 teman lagi -Rafif dan Agung- yang mau ikut, sayangnya mereka datang terlambat, jadi mereka menyusul dengan menggunakan bis.

Menaiki kereta KRD Seminung
KRD Seminung
Suasana di dalam KRD Seminung.
Kereta KRD Seminung pun tiba, para penumpang berbondong-bondong menaiki gerbong kereta. Karena akhir pekan, kereta pun ramai dipenuhi oleh penumpang. Sebagian penumpang termasuk kami pun jadi harus berdiri tak kebagian tempat duduk, ada juga yang duduk di lantai dan sesekali harus berdiri setiap kereta menaikkan atau menurunkan penumpangnya. Kereta pun jalan, si Winda yang gak pernah naik kereta itu pun akhirnya pernah naik. Mission achieved!

Pemandangan dari jendela.

Anak-anak bisa bermain di kereta.


Selepas dari Bandar Lampung, pemandangan dari jendela mulai tampak menyegarkan, mulai dari sawah, sungai, perkebunan dan perkampung kecil, ditambah lagi karena masih pagi sekali, cahaya matahari membuat warna-warna alam di luar sana menjadi sangat menyegarkan.

Berlari.

Kereta babaranjang melintas.
Dari stasiun Labuan Ratu, KRD Seminung akan melewati 11 stasiun dan sesekali harus berhenti di stasiun yang berel ganda karena ada kereta yang memuat batubara atau babaranjang (batu bara rangkaian panjang) melintas, membawa batubara dari Muara Enim Palembang ke Tarahan Lampung.

Tiba di stasiun Kotabumi.

Sesampainya di stasiun Kotabumi, salah satu dari kami mengecek tiket pulang. Ternyata tiket kereta pulang bisa diperoleh siang hari. Kami berjalan kaki menuju Taman Sahabat untuk bertemu dengan 2 teman yang ikut ke Kotabumi dengan menggunakan bis. Sambil menunggu siang nanti, kami pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah salah satu teman kami, Agung di Rejosari, sembari beristirahat, maklum cuaca pada hari itu terik sekali.

Salah satu masjid di Kotabumi.

Taman Sahabat, Kotabumi.

Taman Sahabat, Kotabumi.

Menjelang siang, waktunya membeli tiket di stasiun supaya bisa pulang dengan berkereta lagi. Apadaya, tiba di sana, tiket telah habis. Kereta lainnya untuk jurusan Bandar Lampung pun sedang bermasalah. Akhirnya, mau tak mau kami pun pulang dengan kendaraan alternatif, naik bis. Diantar oleh abangnya Agung, kami diantar ke loket bis Puspa Jaya, armada bis yang sering digunakan oleh masyarakat Kotabumi. Beruntung, walaupun ramai penumpang yang ingin membeli tiket bis, kami masih kebagian tiket untuk pulang. Mungkin sebagian dari mereka yang hendak menaiki bis hari itu sama seperti kami yang tak kebagian tiket kereta.

Patung penari berkostum baju tradisional adat Lampung.
Blogger Tricks

Kamis, 15 Februari 2018

Sore di Kampung Bugis Teluk Betung

Kampung Bugis dari sisi lainnya

Mungkin banyak yang belum tahu kalau ternyata di pesisir Teluk Betung terdapat perkampungan yang mayoritas penduduknya berasal dari Bugis. Kampung itu tak seperti biasanya kampung di desa ku di Liwa, kampung ini berdiri di atas permukaan laut. Bukan mengapung, tetapi dibangun dengan pondasi yang didirikan dari dasar laut. Kampung itu bernama Cungkeng.

Dulu, motor bisa lewat sini

Kampung Bugis

Aktivitas sore

Salah satu beranda rumah warga

Dermaga kecil

Berada di jalan Teluk Bone Kotakarang, kampung Cungkeng bisa di tempuh hanya 20 menit dari pusat kota. Aku sering mengunjungi tempat ini dengan bersepeda, walaupun sepulang dari sini aku jadi harus menempuh banyak tanjakan curam dan panjang. Dulu, aku berasa kampungan banget waktu pertama kali mengunjungi perkampungan ini, heran, kok rumah-rumahnya pada dibangun di atas laut. 😀

Jembatan penghubung Cungkeng - pulau Pasaran terkena banjir rob
Dari kampung ini, kita bisa menempuh sebuah pulau buatan yang menjadi sentra ikan asin di kota Bandar Lampung, pulau Pasaran, dengan melewati sebuah jembatan. Dulu, untuk menyebrangi pulau itu, orang-orang harus menyewa perahu dari perkampungan ini.

Tampat rumah di atas laut dan gedung perkotaan.

Banyak yang bisa dilihat di tempat ini, apa lagi jika sedang ingin melihat hal-hal yang jauh dari perkotaan, mulai dari aktivitas masyarakatnya yang kebanyakan adalah nelayan dan pedagang, kapal-kapal yang berlabuh di dermaga, anak-anak yang sering berenang di laut pada sore hari, bagan-bagan laut yang menepi di dekat dermaga, rumah-rumah yang berdiri tegak di atas permukaan laut hingga panorama matahari terbenam tanpa harus tertutup bangunan-bangunan tinggi.

Di haluan.

Ini baru buatku, bermain layangan di atas perahu.

Ini selebrasi mereka setelah akhirnya hari itu cerah tak ada hujan ataupun mendung 😁

Jauh di seberang sana ada pulau Pasaran.

Perahu-perahu yang biasa digunakan untuk mengangkut ikan asin.

Anak-anak bermain di laut

Water World 😀

Pondasi rumah

Bagan-bagan apung untuk menangkap ikan di tengah laut

Warung kecil

Perkakas untuk membangun rumah.

Temanku Dafi, sineas kece yang pernah ikut bermain ke sini.

Dari Cungkeng, aku bisa lihat senja dengan bebas.

Rabu, 10 Januari 2018

Mampir di Hutan Pinus Sukapura, Sumber Jaya


Libur natal dan tahun baru sudah tiba, waktunya aku dan adikku Vincent pulang ke kampung. Dari Bandar Lampung, butuh waktu 6 sampai 7 jam untuk sampai ke Liwa. Kami pun pulang dengan mengendarai motor, biar lebih murah dan bebas berhenti di mana saja yang kami mau saat bokong terasa panas.

Gerbang masuk hutan pinus Sukapura

Ada jembatan kayunya
Selama tinggal di Lampung, perjalanan dari Bandar Lampung menuju Liwa menjadi perjalanan yang paling aku suka, karena semakin dekat dengan Liwa, udaranya semakin sejuk dan pemandangan yang dilihat kian elok. Apa lagi kalau sudah melewati kota Bukit Kemuning memasuki daerah Lampung Barat, aduhai~



Tempat santai ada, tempat foto juga ada

Setelah mengendarai motor hampir 4 jam lamanya, akhirnya secara tidak sengaja kami memutuskan untuk singgah sejenak di perbatasan Lampung Barat dan Lampung Utara, tepatnya di hutan pinus Sukapura, Sumber Jaya, karena melihat ada banyak orang singgah di hutan tersebut.

Cie, berduaan

Ayunan
Dulunya, hutan pinus ini dibiarkan tumbuh secara alami dan belum dibuka untuk umum. Banyak orang hanya sekedar melintas atau pun sekedar beristirahat sejenak di tepi jalan. Namun sekarang, hutan ini menjadi daya tarik bagi orang-orang sekitar atau orang-orang seperti kami berdua yang tadinya hanya ingin sekedar melintas.


Seperti hutan pinus Mangunan di Jogja atau Lodge Maribaya di Lembang, tempat ini mulai menjadi tempat yang hits, apa lagi semenjak dibuka saat hari libur akhir tahun kemarin. Saat kami berkunjung, pengelola masih sibuk mendekorasi dan membangun sarana-prasarana yang mendukung tempat tersebut. Di dalamnya, sudah terdapat beberapa spot foto yang menunjang pengunjung untuk berfoto-foto juga penyewaan hammock untuk bersantai-santai.

Ada platform juga

Bisa ber-hammock-ria juga
Sangat menyenangkan karena akhirnya hutan ini dijadikan sebagai tempat rekreasi. Apa lagi, untuk di daerah Lampung Barat sendiri, hanya di sini kita bisa menemukan hutan pinus. Tentunya tempat ini akan ramai dikunjungi oleh banyak orang apalagi dikelola menjadi tempat yang kekinian karena didukung oleh spot-spot foto yang instagramable. Bahkan saat kami di sana, banyak kendaraan-kendaraan yang ku perhatikan bukan berasal dari daerah Lampung.

Sampah bisa digantung di sini

Achievement unlocked: Bisa bikin foto seperti ini

Kalau pegang kamera besar, siap-siap diminta memfoto seperti ini